Contemporary
worlds
Indonesia

FX Harsono

Karya seni FX Harsono mengangkat persoalan identitas personal dan kolektif, serta isu-isu keadilan dan ketidakadilan di Indonesia. Harsono adalah keturunan imigran Tionghoa generasi keenam yang juga berdarah Jawa. Keturunan Tionghoa, sebagai etnis minoritas, mengalami diskriminasi di Indonesia sejak lama; awalnya oleh penjajah Belanda dan kemudian selama rezim Orde Baru Presiden Suharto, yang melarang festival budaya dan upacara tradisi Tionghoa serta penggunaan bahasa Mandarin. FX Harsono menunjukkan rasa kehilangan atas budaya Tionghoa dalam karya videonya yang terkenal, Writing in the rain 2009, yang menampilkan si seniman mencoba menuliskan namanya berulang-ulang dalam huruf Mandarin yang terus-menerus terhapus air.

Pada pertengahan 1970-an, FX Harsono menjadi salah satu penggagas Gerakan Seni Rupa Baru dan sejak itu terus berada di barisan depan perjuangan hak asasi manusia yang berupaya menyuarakan nasib kaum marjinal. Selama Orde Baru, ia menggunakan simbol-simbol kuat dalam karya-karyanya: kain berlumuran darah dan gulungan kawat berduri dalam Power and oppression 1992–93, dan topeng wayang dengan bagian mulut digergaji untuk menunjukkan pembungkaman suara-suara perlawanan dalam The voices controlled by the powers 1994. Pada kerusuhan 1998, banyak orang Indonesia keturunan Tionghoa yang diserang massa. FX Harsono menanggapinya dengan serangkaian karya yang langsung berhubungan peristiwa tersebut dan yang berhubungan dengan identitas Tionghoa.

Sejak 2009, terinspirasi salah satunya oleh koleksi foto hitam-putih jepretan ayahnya, karya-karya FX Harsono kerap mengangkat isu-isu sosio-politik, contohnya pembantaian orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa dalam kerusuhan-kerusuhan sengit selama Perang Kemerdekaan Indonesia (1947–49). Gazing on collective memory 2016 adalah instalasi memilukan yang menunjukkan sejarah tragis etnis Tionghoa di Indonesia. Karya yang tampak rapuh ini terdiri dari serangkaian kayu ringkih yang menopang bermacam memorabilia termasuk potret foto, mangkuk porselen, dan buku-buku pelajaran sekolah. Ratusan lilin listrik bergantungan di atas barang-barang ini, memancarkan cahaya keemasan hangat yang melambangkan kekuatan individu dan komunitas yang hampir dihancurkan oleh sejarah yang brutal, namun tetap bertahan.

Berakhirnya Orde Baru Suharto memungkinkan munculnya sistem politik yang benar-benar demokratis di Indonesia; meski demikian, FX Harsono masih terus berupaya memperlihatkan sejarah yang benar kepada generasi muda, agar mereka bisa belajar dari kegagalan masa lalu untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang lebih inklusif.

Dr Caroline Turner and Carol Cains

FX Harsono