Contemporary
worlds
Indonesia

Mella Jaarsma

Mella Jaarsma aktif di kancah seni kontemporer Indonesia sejak 1980-an. Ia terkenal dengan kostum-kostum pahatan mencolok yang ditampilkan pada instalasi atau pertunjukan seni, yang bertindak sebagai ‘kulit kedua’ atau ‘tempat berlindung’ untuk menunjukkan peran penting tubuh dalam membentuk identitas serta hubungan kita dengan masyarakat, tempat, dan sejarah. Kostum-kostum pahatan yang dapat dikenakan seperti pakaian ini seringkali melambangkan prasangka budaya dan ketidakadilan politik terhadap ras, etnisitas, dan agama yang melekat dalam masyarakat.

The landscaper 2013 adalah karya dua bagian yang terdiri dari sebuah kostum dan video berformat single-channel. Mella mengambil inspirasi dari rok lebar yang dikenakan para Sufi, dan ritual tarian Sufi yang berputar-putar, untuk melambangkan sejarah paralel keindahan dan kekerasan upaya kolonialisme Belanda untuk ‘menata’ Indonesia. Dalam video, seorang penari Sufi muncul di atas tebing di sebuah kota kecil di tepi laut, di bawahnya air laut tak berombak. Keberadaan sang penari begitu mencolok di tengah-tengah bentangan alam yang luas dan tak berpenghuni. Tapi sang penari tidak mengenakan rok lebar yang biasanya dikenakan penari Sufi, dalam video ini ia mengenakan rok simpai berlapis yang terbuat dari tumpukan lukisan-lukisan pemandangan alam murahan. Terdengar lonceng berbunyi, dan sang penari mulai berputar-putar dalam lingkaran dan terus berputar, seolah berada dalam meditasi yang ritmis. Saat ia berputar, kamera menyoroti lukisan-lukisan pemandangan di tubuh penari dari dekat, dan kita menyaksikan lukisan-lukisan tersebut melebur dengan lingkungan sekitar. Sang penari lantas mempercepat putarannya sejalan dengan ritme bunyi lonceng, hingga akhirnya ia jatuh ambruk.

The landscaper terinspirasi dari residensi Mella di Jatiwangi Art Factory, yang terletak di lingkungan pedesaan Majalengka, Jawa Barat. Seniman-seniman lokal berkolaborasi dengan Mella untuk membuat rok sang penari yang terdiri dari 34 panel kayu yang saling berhubungan, diukir oleh Pengho dan dicat oleh Anex. Tiap panel kayu menggambarkan pemandangan alam yang tenang dan romantis ala Mooi Indië, tradisi lukisan kolonial yang diperkenalkan di Hindia Belanda pada awal abad kedua puluh. Gambar-gambar di panel rok karya Mella ini terinspirasi dari pemandangan alam indah yang dapat ditemui di Jatiwangi, dan lukisan-lukisan Mooi Indië lokal yang tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita.

Pemandangan keindahan alam dan kehidupan tentram ini sangat kontras dengan sejarah kekerasan dan kekejaman kolonial di Jatiwangi. Daerah ini dilintasi Jalan Raya Pos, jalanan sepanjang 1000 kilometer yang membentang sepanjang Pulau Jawa. Dibangun pada 1808 oleh rakyat setempat yang dieksploitasi sebagai buruh paksa, pembangunan jalan ini berujung pada kematian yang tak terhitung jumlahnya. Ironisnya, pemandangan alam ala Mooi Indië kini menghiasi becak-becak yang beroperasi di jalanan Jatiwangi. Sebagai iklan wisata yang menjanjikan eksotisme, lukisan Mooi Indië mengabadikan mitos keindahan alam yang belum pernah terjamah tangan manusia.

Dr Michelle Antoinette