Contemporary
worlds
Indonesia

Octora

Octora muncul sebagai seniman hampir dua dekade setelah turunnya rezim Orde Baru pada 1998 dan menciptakan karya-karya yang mengusut masa lalu dengan cara-cara yang bermakna. Peninjauan ulangnya atas sejarah kolonial Indonesia dilakukan dengan perspektif gender yang kritis terhadap dampak berkelanjutan warisan sejarah tersebut terhadap representasi perempuan di Indonesia saat ini. Dengan mempertimbangkan irisan antara perbedaan seksual dan perbedaan material, karya-karya awal Octora menampilkan cara

baru melibatkan diri dengan masa lalu Indonesia, yaitu dengan menggunakan posisi biner macam-macam material (keras versus lunak, maskulin versus feminin). Dalam rangkaian karya terbarunya, fokus Octora lebih pada landasan yang goyah antara penciptaan imaji, sejarah resmi, dan ingatan kolektif di Indonesia.

Rangkaian ini terdiri dari lima karya performatif, instalasi, dan karya dua dimensi, yang menyorot hakikat performatif budaya visual kolonial. Dalam karya-karya dua dimensinya, Octora mengangkat hubungan antara fotografi dan kolonialisme Belanda dengan Bali sebagai prisma, dan memakai material pelat baja, perunggu, dan teknik cetak. Octora secara khusus tertarik dengan isu tanggung jawab etis seorang seniman, terutama tentang bagaimana pencitraan menantang sekaligus melanggengkan peredaran materi visual dari zaman kolonial.

Octora memakai foto-foto perempuan Bali abad ke-20 dari arsip Universitas Leiden di Belanda, lalu memproduksi ulang foto-foto tersebut secara digital dengan menggunakan dirinya sendiri sebagai model. Memasukkan dirinya dalam foto-foto tersebut berarti membalikkan tatapan kolonial—sekarang pandangan matanyalah yang mengarah langsung ke penonton. Dalam Samsara 2017, Octora membawa gagasan ini lebih jauh: ‘perempuan pribumi’ dalam karya ini, ironisnya, tersembunyi di balik hiasan-hiasan eksotis—foto itu ditusuk-tusuk dan ditutupi hiasan rambut Bali yang rumit dan terbuat dari kuningan.

Selama pertunjukan performatif yang berdurasi satu jam berjudul Global apartheid voyeurism: The pose 2017, Octora berpose di antara dua lempengan baja yang memantulkan cahaya, diiringi lagu cinta Mandarin berjudul ‘Cinta Tanpa Akhir’ (不了情) (1961) yang dikomposisi oleh Wok Luk Ling dan dinyanyikan oleh Tsui Ping. Meski posenya glamor, tubuh Octora hanya disokong sepasang sepatu hak tinggi dan kalung baja yang melingkari lehernya seperti penyangga tubuh era Victoria yang sering digunakan orang waktu diambil gambar. Rasa tidak nyaman di benak penonton, yang ditimbulkan posisi berdiri ringkih sang seniman dan lagu cinta yang mendayu-dayu, dengan tepat melukiskan ketegangan cara kita menatap karya ini dan pengaruhnya pada diri kita.

Karya-karya Octora menjadi cerminan bagaimana generasi terkini seniman Indonesia menyikapi teknologi dan isu-isu global di dunia seni, bukan cuma menggarisbawahi pergeseran dari citra ke objek, dan dari objek kembali ke citra, tapi juga perubahan dari material menjadi informasi dan dari digital ke analog. Sebagai sebuah rangkaian, karya-karyanya menjadi objek performatif yang mengikat si model, kamera, fotografer, dan penonton menjadi satu.

Dr Wulan Dirgantoro

Octora