Contemporary
worlds
Indonesia

Towards harmony

Menuju Keselarasan

Entang Wiharso adalah seorang printmaker, pematung, pelukis, dan seniman performans yang juga sering menggarap instalasi seni. Ia memanfaatkan pengalaman pribadinya tinggal dan bekerja di Amerika dan Indonesia untuk menciptakan karya-karya naratif yang kompleks dalam rangka mengeksplorasi “sensasi selalu serba salah, selalu gagal menjadi bagian dari lingkungan sendiri”. Kehadiran budaya dobel yang menggarisbawahi pengalaman kehidupan dan percintaannya menginspirasi renungan-renungan tentang migrasi, ras, nasionalisme, intoleransi, kekuasaan, dan hubungan antar manusia. Karya-karya Entang melampaui pengalaman personalnya untuk mengecam norma-norma sosial dari sudut pandang independen seseorang yang selalu berada “di luar”.

Perbendaharaan visual Entang yang kaya dan beragam merujuk ke budaya pop dan seni bersejarah, termasuk bentuk-bentuk ganjil karakter komik, penggunaan siluet dan bayang-bayang dalam pertunjukan wayang kulit, dan relief naratif dari Candi Prambanan, candi Hindu dari abad ke-9 yang lokasinya tidak jauh dari studio Entang sendiri. Ia sering mengunjungi candi itu, yang bahkan kelihatan dari dalam studionya. Dalam beberapa tahun terakhir, Entang menggunakan banyak frase, slogan, dan kata-kata yang ia comot dari budaya urban modern Amerika Serikat dan Indonesia. Hal ini menambahkan white noise dari banjir informasi kehidupan masa kini ke dalam perbendaharaan visualnya.

Sejak 2009, Entang rajin menciptakan struktur-struktur arsitektural dari lempeng-lempeng logam yang dipotong menggunakan sinar laser. Karya ini ia kembangkan dari karya lama yang berbentuk relief yang ditempel di tembok, juga terbuat dari logam. Diberi judul Temple of Hope, tiap struktur dalam karya ini mempertontonkan figur-figur yang saling melilit untuk merepresentasikan adu pendapat, nafsu, dan reaksi emosional: amarah dan penyesalan, kepasrahan dan nafsu melawan, sensualitas dan kesendirian. Lampu sorot yang diletakkan di dalam karya ini memproyeksikan bayang-bayang dramatis ke tembok dan muka penonton. Tidak seperti candi-candi lain dalam karya berseri ini, pengunjung diundang memasuki Temple of Hope: Door to Nirvana lewat empat pintu. Hal ini disengaja untuk mengajak mereka menerka skenario cerita dalam karya ini lewat berbagai sudut pandang, merenungkan arti toleransi dan penerimaan, serta mengakrabkan diri dengan jalan-jalan berbeda menuju perdamaian dan keselarasan.